-
Catatan Kereta Pulang: Di Antara Layar 6 Inci dan Wajah yang Menunggu

Catatan Kereta Pulang ini dimulai pukul 18.07, saat saya melangkah keluar kantor di bilangan Tebet. Langit menggantung mendung ringan, seperti isyarat akan turunnya hujan atau mungkin hanya rindu yang tertahan. Saya melewati Tebet Barat Dalam, melewati beberapa kedai kopi yang jadi saksi bisu pertemuan banyak orang dan perpisahan yang lebih … Read more
-
Pulpen Parker dan Suara yang Tak Pernah Saya Ucapkan

Pulpen Parker mungkin hanya alat tulis seperti pulpen pada umumnya bagi sebagian orang. Tapi bagi saya, ia adalah semacam mesin waktu. Ia bukan hanya menulis, tapi menyimpan suara-suara yang tak sempat saya ucapkan, kalimat yang tak sempat saya selesaikan. Pulpen itu jadi saksi hidup. Dari Jelambar ke Pontianak hingga terdampar … Read more
-
Idul Adha Tanpa Peluk: Catatan Rindu dari Tangerang

Langit pagi di Tangerang tampak kelabu. Bukan karena mendung, tapi karena aku menatapnya sendirian. Lantunan takbir bersahut dari masjid-masjid kecil di perumahan yang belum sepenuhnya terisi. Suaranya menabrak dinding kamar yang hening, lalu bergema lagi di kepala seperti doa yang kehilangan arah. Hari ini Idul Adha. Tapi tak ada aroma … Read more
-
Catatan Seorang Gladiator : Perjalanan Pulang yang Tak Pernah Selesai

18.35 – Pancoran: Dingin yang Menyelinap ke Tulang Jarum jam menancap di angka 18.35. Dingin sisa hujan sore menggerogoti tulang, memaksaku meninggalkan kantor di Pancoran. Di trotoar Jalan MT Haryono, langkahku bersenyawa dengan riuh para gladiator lain: lelaki berkemeja lusuh memanggul tas laptop, ibu-ibu dengan kantong belanjaan yang lebih berat … Read more
-
Gladiator Senja di Jalan Beton

Pukul 06.17. Tol Merak-Jakarta bergetar seperti urat nadi yang tersumbat karat. Ribuan kendaraan menggeram, mengunyah aspal yang masih berbau anyir embun pagi. Di dalamnya, para gladiator modern bersiap. Mereka yang mengikat dasi bagai tali gantung, menyemir sepatu layak baju zirah, dan mengepakkan nafas terakhir sebelum masuk coloseum bernama Jakarta. Bajuku … Read more
-
Pukul 17.02: Transit di Persimpangan Takdir

Jarum jam menancap di angka lima lelah. Aku masih berdiri di halte Busway Pancoran, menyaksikan matahari sore yang tersedu-sedu di antara gedung-gedung. Sebuah pertanyaan menggantung: Nasib baikkah ini, atau hanya ilusi yang kubeli dengan karcis seharga tiga ribu lima ratus rupiah? Tubuh ini harus pulang. Beristirahat di antara debar tagihan listrik dan … Read more
-
Pulang dan Pergi: Cerita tentang Dua Kota yang Menarik Hati

Bandara, persinggahan rindu dan waktu yang saling salip. Di tiap tapak langkah, tersimpan janji-janji yang belum sempat ditepati. Usai libur Idul Fitri 2025, saya kembali berdiri di ambang keberangkatan, menyaksikan Pontianak perlahan menjauh dari balik jendela pesawat. Di seberang langit, Jakarta telah menunggu, membawa serta tumpukan tenggat dan ritme hidup … Read more
-
Ganti Wallpapernya, ya
Sejak kembali kerja di Jakarta. Saya berusaha untuk pulang ke Pontianak secara berkala. Setiap dua bulan sekali. Menyambangi istri dan kedua putri tercinta. Hari ini, saya mencoba kembali ke Jakarta. Setelah melepas rindu bersama keluarga. Mengambil peran seorang ayah untuk mengantar dan menjemput Nazya dan Mahira ke sekolah. Kegiatan yang lama … Read more
