Cerita di Balik Pemberdayaan PMI Purna

Tak pernah terbersit di benak Misfah, covid-19 membuatnya berhenti kerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Malaysia. 12 tahun pengabdiannya di perusahaan pengolahan kayu di negeri Jiran menjadi penopang hidup hidupnya. Membantu suami dan biaya sekolah putri semata wayangnya.  

Saya bertemu dengannya saat kantor mengadakan program pemberdayaan PMI di awal September ini. Pemberdayaan untuk mantan pekerja migran Indonesia ataupun keluarganya. Perempuan kelahiran Sambas 33 tahun lalu, merupakan salah satu peserta bersama 19 perempuan tangguh lainnya dari sebuah desa berjarak 60 kilometer dari ibukota provinsi Kalimantan Barat.  

Program ini tidak serta merta ada dan mudah terlaksana. Pagebluk covid-19 membuat kami berhati-hati. Memperhitungkan segala risikonya. Risiko penularan virus. Kami tak ingin kegiatan ini menjadi kluster baru penyebaran virus.  Bahaya bagi kami maupun peserta.  

Kegiatan yang rencananya kami adakan semester satu 2021, ditunda. Menunggu turunnya penyebaran serta vaksinasi.  

Tancap Gas

Bulan Juli 2021, kami memutuskan kegiatan ini. Tancap gas. Menyambangi desa Sungai Purun Kecil, salah satu kantong PMI di Mempawah. Keputusan ini diambil berdasarkan data serta adanya kawan yang tinggal disana. Harapannya, informasi awal tentang karakteristik penduduknya serta potensi daerahnya.  

Kami tak ingin kegiatan ini hanya sebatas pelaksanaan. Setelah selesai, bubar tanpa hasil. Wajib ada peningkatan penghasilan bagi peserta. Bahasa kerennya outcome-nya harus jelas dan terukur.  Tak mau menanggung dosa sosial kalau setelah kegiatan tak berdampak pada ekonomi mereka. Kalaupun dari 20 peserta hanya ada yang gagal, bisa tertutupi dengan keberhasilan peserta lainnya. Mengharapkan semuanya berhasil itu karunia Sang Pencipta. Tapi hukum alam kan berkata tidak semua buah di pohon itu kan manis.  

Kembali ke Juli 2021. Berbekal informasi itu, dua orang dikirim ke sana. Melakukan pendataan, verifikasi, serta kepastian vaksinasi bagi calon peserta. Tak lupa menitipkan pesan kepada tim verifikasi untuk memberitahukan hal pahit ke mereka. Ini bukan program bagi-bagi duit ataupun bantuan. Ini program pelatihan wirausaha berbasis potensi lokal. Semangat mengubah nasib menjadi poin penting.  

Tahap awal ada lebih dari 50 orang yang ingin ikut. Mitra lokal dan industri yang menjadi partner sengaja melibatkan orang yang mereka kenal. Supaya bimbingan bisa berjalan tanpa kekakuan dan hangat. Mitra lokal dan industri inilah yang membantu menyaring calon peserta. Kedua mitra sudah mengenal secara pribadi masing-masing.  

Selama bulan Juli 2021, kami memantapkan rencananya.  Berkomunikasi dengan dinas tenaga kerja, koperasi UMKM dan kepala desanya melalui jalur daring maupun luring. Harapannya agar mereka mau membantu saat hari H dan terpenting pasca hari H. bersama-sama melakukan pendampingan terhadap calon wirausaha pemula.  

Kami pun meminta kepada calon peserta pemberdayaan PMI untuk memikirkan jenis pelatihan kewirausahaan, nama kelompok yang akan menjadi nama produknya. Disepakati oleh ke-20 srikandi ini, mereka menginginkan pelatihan pengolahan pisang. Alasannya, ada 50 hektar perkebunan pisang di desanya. Serta pisang dari desa ini selalu dijual dalam bentuk mentah tanpa pengolahan. Mereka pun menyepakati nama kelompok mereka. Beberapa hari sebelum hari-H, tepatnya tanggal 24 Agustus 2021, mereka sepakati nama kelompoknya. SRI MURNI, identitas yang disepakati mereka. Berasal dari singkatan Srikandi Migran Purun Kecil.  

Waktu yang terus berputar harus dikejar. Mencari peralatan pengolahan pisang di beberapa toko di Pontianak. Mencari yang terbagus dan murah karena keterbatasan budget.  

D-Day Pemberdayaan PMI

Beberapa hari sebelum pelaksanaan mencari rumah sakit ataupun klinik yang menyediakan jasa pelayanan pemeriksaan swab anti-gen. Protokol kesehatan kami jaga betul. Kami tak ingin terjadi kluster baru. Kluster pemberdayaan.  

H-1 pelaksanaan, semua calon peserta dan panitia dilakukan swab anti-gen. Totalnya 25 orang yang kami swab anti-gen. Satu orang calon peserta hasil pemeriksaannya positif. Diputuskan mengganti dengan calon lainnya dengan pemeriksaan swab anti-gen juga.

Empat hari kegiatan pemberdayaan PMI purna dilakukan sesuai dengan rencana. Kami memperbanyak materi praktik pengolahan pisang menjadi kripik pisang. Agar mereka lebih paham praktiknya dibandingkan teorinya. Materi motivasi dan inspirasi usaha kami sampaikan dengan menghadirkan pelaku usaha. Sengaja materi ini kami taruh di awal, agar semua peserta mengetahui permasalahan dalam berwiraswasta dan bisa mengubah mindset dari pekerja menjadi wirausaha.  

Saat hari terakhir. Saya sengaja memberikan materi soal perhitungan Harga Pokok Penjualan dan strategi pemasaran produk. Biar para pelaku usaha mengerti bagaimana menentukan berapa biaya produksi, harga jualnya, dan berapa keuntungannya. Amazing-nya rerata mereka sudah tahu hal ini tanpa perlu dijelaskan lebih lanjut. Tugas saya cukup ringan karena pada akhirnya hanya memantik diskusi. Mungkin karena pesertanya ibu-ibu. Sudah terbiasa mengatur keuangan rumah tangga agar tidak besar pasak daripada tiang.  

pemberdayaan pmi
Saya memberikan materi tentang Harga Pokok Penjualan dan Strategi Pemasaran Produk kepada para peserta Pemberdayaan PMI

Soal materi strategi pemasaran produk. Saya menfokuskan pada pemasaran daring menggunakan facebook dan whatsapp yang biasa mereka gunakan sehari-hari. Dilalahnya, mereka pun sudah mengertinya mengenai facebook marketplace. Mungkin karena sudah terbiasa mencari barang disana ya. Saya pun akhirnya hanya memfokuskan pada content marketingnya untuk menguatkan pemasaran daring mereka. Kalau ditanya bagaimana soal pemasaran secara offline, mereka sudah menyiapkan skemanya bahkan sudah ada toko ritel yang siap menampung produk mereka sebelum acara berakhir.  

Lalu apa kontribusi kepala desanya? Kepala desa yang lebih muda dari saya menyiapkan tempat produksi untuk mereka pasca pelatihan. Bahkan, kadesnya menjanjikan dukungan untuk kelompok Sri Murni dari dana desa asalkan pada tiga bulan terakhir usaha ini mendapatkan keuntungan minimal sejuta rupiah tiap bulannya. Sebuah tantangan yang disambut dengan gegap gempita oleh mereka.  

Setelah itu kami tinggal membimbing agar mereka bisa wirausaha secara mandiri. Menagih janji kepala desanya bila tantangannya bisa dipenuhi mereka. Saya sendiri yakin dengan target itu dapat dipenuhi srikandi-srikandi ini. Seperti terpenuhinya janji kepala desa kepada mereka. Bukankah manusia yang dipegang ucapannya.  

Tulisan ini merupakan sister post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: