Category: Cerita
Undip Migrant Center: Simfoni Negeri dan Harapan Para Perantau Muda

Ada masa ketika bekerja di luar negeri adalah tentang nekat. Tiket promo di tangan, paspor baru dicetak seminggu sebelumnya, dan doa ibu yang dibisikkan dengan khawatir di terminal bus. Tidak ada pelatihan. Tidak ada panduannya. Nggak ada pusat informasi yang siap menjawab “harus mulai dari mana”. Hari itu, sejarah kecil sedang ditulis di jantung Kota…
Tebet Eco Park: Tempat Diam yang Menyembuhkan

Tentang satu siang di Jakarta yang tidak luar biasa, tapi cukup. Tentang keberanian berhenti sebentar di kota yang terus berlari. Tebet Eco Park bukan hanya taman kota. Ia adalah ruang jeda. Tempat diam yang menyembuhkan. Saya menemukan itu pada satu siang, tepat 18 Juni 2025 pukul 12.08 WIB, saat duduk sendirian di lantai dua sebuah…
Pulpen Parker dan Suara yang Tak Pernah Saya Ucapkan

Pulpen Parker mungkin hanya alat tulis seperti pulpen pada umumnya bagi sebagian orang. Tapi bagi saya, ia adalah semacam mesin waktu. Ia bukan hanya menulis, tapi menyimpan suara-suara yang tak sempat saya ucapkan, kalimat yang tak sempat saya selesaikan. Pulpen itu jadi saksi hidup. Dari Jelambar ke Pontianak hingga terdampar di Serpong. Dari bangku sekolah…
Menepi Sejenak di Santika Premiere Padang

Sebuah catatan dari kota yang selalu menyambut dengan rendang dan rindu. Satu kebiasaan kecil yang selalu saya lakukan setiap kali menginap di hotel: membuka tirai, melihat keluar jendela, dan membiarkan malam kota menyapa tanpa suara. Bukan karena saya mengharapkan pemandangan spektakuler seperti skyline Singapura atau lampu dansa Times Square. Tapi lebih karena ingin tahu, malam…
Idul Adha Tanpa Peluk: Catatan Rindu dari Tangerang

Langit pagi di Tangerang tampak kelabu. Bukan karena mendung, tapi karena aku menatapnya sendirian. Lantunan takbir bersahut dari masjid-masjid kecil di perumahan yang belum sepenuhnya terisi. Suaranya menabrak dinding kamar yang hening, lalu bergema lagi di kepala seperti doa yang kehilangan arah. Hari ini Idul Adha. Tapi tak ada aroma rendang. Tak ada suara Nazya…
Perjalanan ke Lido: Tentang Nasi Uduk, Kopi, dan Sepotong Sunyi di Tol Jagorawi
Pagi itu, sekitar pukul 07.45 WIB, kami berangkat. Hanya aku dan istriku. Tanpa ribut-ribut khas anak-anak yang berebut sandal atau berseteru soal urutan sarapan. Pagi itu terasa lapang, seolah dunia memberi kami waktu yang utuh. Tujuannya sederhana. Mencari sarapan di Gading Serpong. Tapi belum lima belas menit di jalan, hidung kami lebih dulu ‘menemukan’ arah.…
Shell dan Suara Pompa yang Kini Tak Lagi Sama
Satu per satu, dari SPBU di Fatmawati sampai yang di pinggir bypass Cirebon. Plang merah-kuning itu masih berdiri. Lampunya masih menyala. Tapi kau tahu, sesuatu telah bergeser. Seperti seseorang yang mendadak mengganti nama belakang di bio Instagram-nya. Shell, perusahaan minyak multinasional itu, resmi melepas seluruh SPBU-nya di Indonesia. Bukan karena bangkrut. Bukan pula karena tersandung skandal. Tapi…
Sepak Bola dalam Beberapa Babak : “Darah Biru”, Darah yang Diwariskan

Bagi kami orang Sunda, Persib bukan sekadar klub sepak bola. Sejak didirikan pada 1933, Persib lahir dari rahim perlawanan. Di era kolonial, ketika orang Sunda dilarang berseragam di klub-klub Belanda, Persib menjadi jawaban: bendera kebanggaan yang berkibar melawan diskriminasi. “Darah biru” yang mengalir di tubuh kami adalah darah yang sama yang dulu diperjuangkan oleh para…






