Teh tarik di warung menahanku, seakan berkata: “Duduk dulu. Nikmati aku setelah kamu bercengkrama dengan bisingnya Tol Jakarta-Merak”. Jarum jam di handphoneku menunjukan angka 17:58. Itu artinya aku harus bersiap pulang. Kata yang bisa kulupakan sejenak.
Ucapan itu seakan terngiang di telinga. Ku hisap teh tarik melalui sedotan plastik sembari menikmati kemacetan pertigaan Islamic Village Tangerang. Waktu terus berputar dan aku masih menikmati sore itu. Sore yang belum tentu sama dengan kemarin.
“Bang, sepeda sudah di depan ya!” ucap penjaga penitipan motor menyadarkanku dari kenikmatan kemacetan. Sudah setahun lebih aku menikmati kemacetan. Sesuatu yang jarang ku temui di Pontianak. Kota yang lengang dan waktu terasa lambat. Kenikmatan itu kurasakan, entah bersama Trans Jakarta ataupun mobil jemputan. Aku ingin menikmati itu seperti 2000-an di Jakarta sebelum bertugas ke Kota Khatulistiwa.
Suara klakson mobil sore itu membangunkan ingatanku pada Jakarta tahun 2000-an. Kemacetan mulai ada dibeberapa titik. Saat pagi. Ketika siang. Dan sore, ketika orang pulang dari aktivitasnya. Bis kota dan mikrolet berhenti setiap saat. Tak peduli apakah itu halte atau bukan?. Pedagang asongan hilir mudik menaiki angkutan umum menawarkan dagangannya. Pengamen melantunkan lagunya, tak hirau apakah suaranya merdu atau tidak. Terkadang kita akan menyaksikan pemalak yang mengaku dirinya sastrawan, membacakan puisi sambil memaksa meminta uang kepada penumpang.
Orang-orang silih berganti mengambil motornya. Aku masih tetap. Diam, menikmati teh tarik dan kemacetan. Merayakan orang-orang pulang kerja.
Notifikasi aplikasi transportasi online memintaku untuk pulang.
Aku belum mau pulang.

Leave a Reply