SMK Go Global: Jalan ke Luar Negeri yang (Akhirnya) Gratis dan Nggak Ribet

Gue mau jujur dulu.

Setiap kali ada program pemerintah yang mengklaim “gratis” dan “mudah”, elo semua pasti refleks skeptis. Karena di lapangan, “gratis” sering kali berarti gratis pelatihan, tapi bayar administrasi, bayar ini dan bayar itu, sampai akhirnya angkanya tidak jauh beda dari yang berbayar.

Tapi setelah gue tahu lebih dalam soal SMK Go Global, ada beberapa hal yang bikin gue mau nulis ini dengan nada yang lebih optimis dari biasanya.

Apa itu SMK Go Global, sebenarnya?

Ini bukan sekadar program pelatihan kerja biasa. SMK Go Global adalah kolaborasi lintas kementerian, antara KP2MI, kementerian lain, dan dikoordinasi oleh Kemenko Bidang Pemberdayaan Masyarakat. Tujuannya satu: menyiapkan orang Indonesia untuk bisa kerja di luar negeri secara aman, prosedural, dan sesuai standar negara tujuan.

Yang menarik buat gue, programnya tidak hanya dijalankan di SMK tertentu. Pelaksanaannya tersebar di berbagai lembaga pendidikan dan pelatihan vokasi yang sudah ditetapkan resmi oleh KP2MI. Jadi bukan cuma soal nama sekolahnya, tapi kualifikasi lembaganya.

Siapa yang bisa ikut?

Ini yang sering salah kaprah. Banyak orang kira SMK Go Global hanya untuk siswa atau lulusan SMK. Kenyataannya? Selain untuk lulusan SMK, program ini juga terbuka untuk alumni SMA, lulusan perguruan tinggi, dan masyarakat umum yang ingin mempersiapkan diri kerja di luar negeri.

Gue ulangi sekali lagi, bukan hanya lulusan SMK tapi juga masyarakat umum. Kalau elo bukan lulusan SMK, elo bisa ikut program ini. Selama elo memenuhi ketentuan yang berlaku dan memang ingin kerja di luar negeri secara prosedural, pintu ini terbuka. 

Kalau elo nggak minat kerja di luar negeri, gue sarankan nggak usah mendaftar program ini.

Soal biaya, ini yang perlu elo pahami dengan kepala dingin

Komponen pelatihannya gratis. Ini resmi, karena disubsidi pemerintah. Tapi ada kalimat penting yang jangan sampai luput, calon peserta tetap perlu menyiapkan biaya untuk proses penempatan ke luar negeri.

Gue tidak mau nutupi ini. Proses penempatan PMI punya komponen biaya yang diatur dalam perundangan. Dokumen, asuransi, tiket, dan lain-lain. Besarannya berbeda tergantung negara tujuan. Jadi “gratis” di sini artinya komponen pelatihan kompetensinya yang tidak dipungut biaya. Bukan semua biaya dari awal sampai elo mendarat di bandara luar negeri.

Ini bukan kritik untuk program ini. Ini realitas yang perlu elo tahu sejak awal, supaya tidak kaget di tengah jalan.

Kalau tertarik, mulai dari mana?

Langkah pertama dan paling mudah itu, elo bisa datang atau hubungi BP3MI (Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia) yang ada di  provinsi tempat elo tinggal. Mereka ini kantor yang paling dekat dengan elo sebagai calon peserta dan bisa memberikan informasi yang lebih spesifik sesuai wilayah dan kebutuhan elo.

Atau elo bisa pantau kanal resmi KP2MI/BP2MI, baik itu website maupun media sosial. Ini penting karena jadwal pendaftaran, pengumuman calon peserta, sampai jadwal dan tempat pelatihan ada disana.

Kenapa gue pikir ini layak diperhatikan

Indonesia punya jutaan Pekerja Migran yang bekerja di luar negeri. Sebagian besar dari mereka berangkat tanpa persiapan kompetensi yang memadai, kadang lewat jalur yang tidak prosedural, dan ujungnya rentan dieksploitasi.

Tapi gue mau bicara lebih jauh dari sekadar angka dan prosedur.

Ada sesuatu yang tidak pernah muncul di brosur program manapun: bagaimana rasanya jadi orang Indonesia yang kerja di luar negeri tanpa tahu hak-hak, tanpa bisa berkomunikasi dengan baik, tanpa dokumen yang lengkap. Elo bekerja, tapi posisi elo lemah. Elo menghasilkan uang, tapi elo tidak punya suara. Di titik itulah eksploitasi paling mudah masuk, bukan selalu karena majikan yang jahat, tapi karena kesenjangan yang terlalu lebar antara apa yang elo tahu dan apa yang seharusnya elo tahu.

Kompetensi bukan hanya soal skill teknis. Kompetensi adalah bahasa yang membuat elo bisa bicara setara.

Pekerja yang datang dengan sertifikasi yang diakui, kemampuan bahasa yang terstandar, dan pemahaman tentang kontrak kerjanya. Datang bukan sebagai orang yang butuh dikasihani, tapi sebagai profesional yang menawarkan nilai. Perbedaan itu kecil di atas kertas, tapi sangat besar dalam kehidupan sehari-hari di negara orang.

Gue pernah baca cerita dan mungkin elo juga pernah dengar, tentang PMI yang tidak tahu bahwa lembur seharusnya dibayar, tidak tahu bahwa ada saluran pengaduan kalau majikan bermasalah, tidak tahu bahwa kontrak mereka sebenarnya dilindungi hukum. Bukan karena mereka bodoh. Tapi karena tidak ada yang pernah memberitahu mereka sebelum berangkat. Dan ketika mereka akhirnya tahu, seringkali sudah terlambat.

Program seperti SMK Go Global itu salah satu cara mengubahnya. Sebagai titik masuk yang lebih bermartabat dibanding berangkat dengan modal nekat saja.

Karena pada akhirnya, yang paling gue harapkan dari program seperti ini bukan hanya angka penempatan yang naik di laporan tahunan. Yang gue harapkan adalah ada lebih banyak orang Indonesia yang pulang dari luar negeri dengan kepala tegak  bukan karena mereka beruntung, tapi karena mereka memang siap.

Leave a Reply