Manggarai dan Semua yang Singgah

Statiun Manggarai

Ada yang aneh dari Stasiun Manggarai. Ia bukan tujuan. Nyaris tidak ada yang datang ke sini untuk tiba. Orang-orang hanya singgah, lalu pergi lagi ke arah lain. Tapi justru di situ letak keajaibannya.

Kalau kamu mau melihat Jakarta yang sesungguhnya, bukan Jakarta di baliho atau instagram siapapun, duduklah di bangku peron Manggarai. Perhatikan. Seorang wanita muda menggendong tote bag sekaligus tumbler. Seorang bapak asyik dengan layar 6 inci-nya sambil meneguk air minum kemasan. Para pekerja sibuk menatap layar ponsel masing-masing, berdekatan tapi di dunia yang berbeda.

Mereka semua sedang dalam perjalanan. Tapi perjalanan macam apa?

Saya pikir, transit adalah metafora paling jujur untuk hidup kelas menengah Indonesia. Kita jarang benar-benar tiba. Kita selalu dalam perjalanan menuju sesuatu yang lain, gaji lebih besar, rumah lebih layak, anak yang sehat, masa depan yang agak kurang cemas dari hari ini.

Manggarai menampung semua itu tanpa bertanya.

Lantainya mungkin retak di beberapa sudut. Anginnya bukan sejuk, tapi lebih tepat disebut udara yang bergerak. Tapi ia tidak pernah sepi, dan anehnya tidak pernah terasa sepi. Ramai Manggarai adalah ramai yang hangat. Ramai manusia yang sedang berjuang, masing-masing dengan caranya sendiri.

Catatan: Tulisan ini saya ketik di peron Manggarai, tanggal 30 April 2026 pukul 20.56. Hujan rupanya sudah lebih dulu lewat. Petrichor-nya merasuk ke hidung. Saya masih menunggu kereta ke Stasiun Duri, transit kedua sebelum Tangerang Line membawa saya benar-benar pulang. Di luar, malam sudah penuh. Tapi peron ini belum mau sepi. Mungkin memang begitu cara Manggarai mencintai orang-orang yang singgah.

Leave a Reply