Kursi Kosong Mata Najwa Maksudnya Apa?

Mau disclaimer dulu. Kalau saya bukan merupakan bagian dari insan pers. Saya menulis ini setelah berbicara dengan beberapa insan pers yang ada di Pontianak.

Linimasa Twitter saya tempo hari berseliweran soal mata Najwa dan kursi kosong. Kebetulan malam itu televisi sedang dikuasai putri sulung. Handphone jadi fokus sembari berinteraksi dengan putri bungsu.

Karena penasaran segera saya mencari tahu. Sebab trendingnya mata Najwa dan kursi kosong.

Dalam cuplikan video yang berada di YouTube. Terlihat Najwa Shihab bertanya kepada kursi kosong yang seharusnya diisi oleh Menteri Kesehatan, pak Terawan. Karena pak menteri tidak hadir makanya Najwa Shihab tetap mewawancarai kursi kosong yang seharusnya diduduki pak menteri.

Kursi Kosong Mata Najwa Menurut Rekan Jurnalis

Setelah menonton, saya mencoba bertanya kepada dua kawan yang berprofesi sebagai jurnalis melalui pesan singkat whatsApp. Satu jurnalis televisi dan satunya lagi jurnalis media cetak. Keduanya mempunya pandangan berbeda satu sama lain.

Jurnalis televisi mengatakan kalau yang dilakukan oleh Najwa Shihab itu biasa saja. Najwa dalam hal ini sedangkan melakukan sarkasme kepada Pak Menteri Terawan. Pertanyaan Najwa Shihab kepada kursi kosong (pak Menteri) merupakan pertanyaan masyarakat Indonesia pada umumnya saat pandemi COVID-19.

Lebih lanjut kawan dari televisi itu mengatakan kalau pertanyaan itu bisa dijawab kapan pun pak menteri mau. Tidak harus di acara Mata Najwa.

Sedangkan kawan satu lagi yang dari media cetak di Pontianak mengatakan apa yang dilakukan Najwa Shihab dengan mewawancarai kursi kosong merupakan salah satu kegagalannya karena tidak bisa mendapatkan informasi dari pak Menteri. Tugas jurnalis menurutnya mendapatkan informasi dari narasumber. Dengan mewawancarai kursi kosong, informasi apa yang akan didapatkan. Terlepas dari kondisi pandemi saat ini katanya.

Lebih lanjut kawan media cetak itu mengatakan bahwa tidak ada keharusan bagi narasumber untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh jurnalis.

Sebagai jurnalis, kawan media cetak itu mengatakan untuk menghargai narasumber. Apapun profesi narasumber itu sendiri.

Kursi Kosong Itu Apa?

Sejujurnya saya masih penasaran dengan jawaban keduanya. Saya pun berinisiatif mengajak keduanya bertemu untuk mencari tahu lebih lanjut . Namun keterbatasan waktu dan ritme pekerjaan mereka dan saya yang lagi banyak sehingga belum bisa bertemu. Apalagi saat ini lagi ramai isu UU Cipta Kerja yang mendapat sorotan dari masyarakat. Tentu saja keduanya akan lebih fokus kepada isu UU Cipta Kerja yang baru-baru ini disahkan bapak dan ibu anggota DPR RI.

Mungkin saya harus mengatur jadwal bertemu dengan kedua kawan jurnalis itu untuk mendapatkan pandangan lebih lanjut. Atau ada pembaca yang mempunyai pandangan lain? Sila berkomentar di kolom komentar yang tersedia.

Ingat ya. Saya bukan bagian dari jurnalis manapun hanya kebetulan mempunyai kawan-kawan jurnalis. Bukan kapasitas saya untuk menilai Kursi Kosongnya mbak nana.

Gambar ilustrasi oleh OpenClipart-Vectors dari Pixabay

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: