Pandemi Covid-19 Membuat Kesulitan Penghasilan

Virus Korona atau Covid-19 yang mula terjadi awal Desember 2019 tak terasa hingga sekarang masih mengganas. Penyebarannya yang masif membuat badan dunia kesehatan WHO menetapkannya sebagai pandemi pada 11 Maret 2020.

Akibat dari itu perekonomian dunia menjadi turun bahkan mencapai angka minus. Tak terkecuali Indonesia. Bahkan di kuartal III 2020 pertumbuhan ekonomi menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani diperkirakan akan minus hingga 2 persen.

Tak percaya, betapa susahnya ekonomi tahun 2020 akibat Pandemi Covid-19? Coba tanyakan ke sekeliling kita. Apakah masih penghasilannya bertambah atau berkurang? Saya yakin akan banyak yang menjawab berkurang.

Penghasilan Berkurang Akibat Pandemi Covid-19

Seorang pangkas rambut di Jalan Uray Bawadi Pontianak yang saya sambangi. Merasakan betul dampaknya. Dahulu biasanya mendapatkan pelanggan sekitar 6 sampai 10 sehari. Sekarang hanya bisa mendapatkan 3 pemakai jasanya dalam sehari termasuk saya yang menggunakan jasanya.

Penurunan ini disebabkan karena tidak adanya anak sekolah yang memangkas rambut di tempatnya. Wajar saja. Sekolah tatap muka sejak pandemi memang ditiadakan. Makanya pelanggannya yang notabene anak sekolah tidak akan meluangkan waktu untuk memotong rambut.

Sebelum pandemi Covid-19, rerata penghasilannya sekitar 120 ribu sampai 200 ribu sehari. Sekarang mendapatkan 60 ribu sehari itu sudah bersyukur. Ini belum dikurangi dengan setoran kepada pemilik pangkas rambut sebesar 30 persen dan 70 persen menjadi haknya.

Artinya sebelum pandemi, uang yang dibawa pulang ke rumah sekitar 84 ribu hingga 140 ribu. Namun sekarang berkurang hanya sebanyak 42 ribu. Setengah penghasilannya berkurang padda saat sekarang.

Covid-19 Membuat Kawan Kehilangan Pekerjaan

Selain berkurangnya penghasilan. Pandemi Covid-19 ini berdampak pada adanya pemutusan hubungan kerja. Berapa banyak yang terkena PHK? Saya belum mendapatkan datanya. Tapi dalam lingkaran pertemanan saya, ada yang terkena PHK imbas pandemi. Seperti cerita dibawah in.

Seorang kawan saya yang sebelumnya bekerja di perusahaan ekspedisi terpaksa harus rela mengisi data BPS sebagai unemployment pada pertengahan tahun 2020. Seingat saya awal tahun 2020 kawan ini bekerja di perusahaan tersebut selepas mengabdi menjadi honorer di instansi pemerintah selama beberapa tahun lamanya. Artinya dalam beberapa bulan saja beralih status dari honorer menjadi pegawai swasta dan berubah menjadi pengangguran.

Dalam ceritanya kepada saya tempo hari. Kawan saya berkeluh kesah soal statusnya sebagai penggangguran. Dan saya menyarankan untuk menekuni hobi dan profesinya selama ini sebagai fotografer. Namun ternyata pekerjaan fotografer dalam pandemi ini pun sedang merana karena tidak adanya pesta perkawinan saat pandemi saat ini. Selain itu kawanku mengatakan di kota ini, sudah banyak saingan dalam dunia fotografer. Duh, makin mumet pikirku.

Saya pun menyarankan untuk mengikuti program prakerja yang dikeluarkan pemerintah. Saran itu diikuti. Walakin, tidak lolos dalam program prakerja begitu info yang saya terima. Toh, yang penting sudah berusaha. Padahal, kalau lolos kan lumayan dapat intensif sebesar Rp 3,55 juta.

Ilustrasi diambil dari themeisle

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: