Month: June 2025
Tebet Eco Park: Tempat Diam yang Menyembuhkan

Tentang satu siang di Jakarta yang tidak luar biasa, tapi cukup. Tentang keberanian berhenti sebentar di kota yang terus berlari. Tebet Eco Park bukan hanya taman kota. Ia adalah ruang jeda. Tempat diam yang menyembuhkan. Saya menemukan itu pada satu siang, tepat 18 Juni 2025 pukul 12.08 WIB, saat duduk … Read more
Pulpen Parker dan Suara yang Tak Pernah Saya Ucapkan

Pulpen Parker mungkin hanya alat tulis seperti pulpen pada umumnya bagi sebagian orang. Tapi bagi saya, ia adalah semacam mesin waktu. Ia bukan hanya menulis, tapi menyimpan suara-suara yang tak sempat saya ucapkan, kalimat yang tak sempat saya selesaikan. Pulpen itu jadi saksi hidup. Dari Jelambar ke Pontianak hingga terdampar … Read more
Menepi Sejenak di Santika Premiere Padang

Sebuah catatan dari kota yang selalu menyambut dengan rendang dan rindu. Satu kebiasaan kecil yang selalu saya lakukan setiap kali menginap di hotel: membuka tirai, melihat keluar jendela, dan membiarkan malam kota menyapa tanpa suara. Bukan karena saya mengharapkan pemandangan spektakuler seperti skyline Singapura atau lampu dansa Times Square. Tapi … Read more
Dua Hari di Padang: Tentang Perjalanan, Jeda, dan Pulang yang Tak Pernah Sama
Tanggal 2 Juni 2025. Sebuah hari yang biasa saja di kalender, tapi tak ada yang sungguh-sungguh biasa di hari-hari yang diiringi koper dan boarding pass. Pukul 10.49 pagi, saya meninggalkan Tebet. Jalanan lenggang, seperti memberi restu atas kepergian yang sudah dijadwalkan. Tol Dalam Kota tidak berisik hari itu. Tidak ada … Read more
Idul Adha Tanpa Peluk: Catatan Rindu dari Tangerang

Langit pagi di Tangerang tampak kelabu. Bukan karena mendung, tapi karena aku menatapnya sendirian. Lantunan takbir bersahut dari masjid-masjid kecil di perumahan yang belum sepenuhnya terisi. Suaranya menabrak dinding kamar yang hening, lalu bergema lagi di kepala seperti doa yang kehilangan arah. Hari ini Idul Adha. Tapi tak ada aroma … Read more
Tan Joe Hok dan Kenangan yang Tak Pernah Gugur di Lapangan

Seorang legenda tak pernah benar-benar mati. Ia hanya berpindah tempat dari panggung dunia ke altar kenangan. Dan hari ini, Indonesia kembali berkabung bukan hanya karena seorang atlet telah tiada, tetapi karena sepotong sejarah telah menyelesaikan putaran terakhirnya. Di Antara Algoritma dan Raket Usang Tan Joe Hok, lelaki yang lebih dulu … Read more





