Penjual bubur ayam. Berkulit hitam legam. Rambut mulai memutih menandakan usia yang tak lagi muda. “eh, a. Bubur” menawarkan dagangannya saat melihat saya sambil menulis daftar belanjaan di sobekan kertas. Kujawab “boleh”. Tak lama pesananku datang. Kulahap dengan nikmat, mengisi perut kala pagi. Biar kuat menghadapi hidup hari ini, batinku.
Tandas sudah mangkuk sarapanku. Keyakinan menjalani hari semakin kuat. Seperti sepenggal kalimat dari Frederick Schiller, Hidup yang tak pernah dipertaruhkan, tidak akan dimenangkan. Penggalannya terngiang di kepala, menjadi penyemangat kerja.
Ku tatap layar 6 inci. Pesan singkat di WhatsApp terbaca. Sambil sesekali menoleh ke kiri dan kanan. Spanduk kain warna merah memikat mata. Pengumuman kalau tempat bilyar itu baru dibuka untuk umum, dari satu bulan yang lalu. Bukan hanya untuk saya. Untuk mereka yang ingin melepas penat dari kejenuhan hidup.
Disebelah kanan, terlihat Perempuan muda berjilbab bersiap menjalani tugasnya. Menyapa warga Jakarta yang ingin membayar pajak kendaraan. Entah, berapa banyak polusi yang dihadirkan oleh kendaraan penghisap fosil.
Kubuka tas hitam. Kuambil sebotol minum dari Kelapa Dua Tangerang. Terucap mantra, mari taklukan buasnya Batavia karena ada masa depan anak serta tagihan bulanan yang tidak bisa ditunda.
Catatan: Tulisan ini tersimpan di arsip aplikasi Notion. Daripada mubazir tidak terlihat, saya sengaja mengupload disini.