Membaca Koran

Awal mula membaca koran Kompas terjadi saat masih SD. Belum menjadi menu wajib. Baca majalah Bobo dan tabloid Bola menu utama saya.

Bapak lebih senang menyantap koran Kompas. Ibu menikmati tulisan di tabloid Nova.

Empat media cetak kami santap secara berkala. Bang Ucok mengantarkannya setiap pagi dengan mengayuh sepeda hitamnya. Puluhan kilometer ditempuhnya agar pelanggan bisa mendapat informasi.

Mengayuh puluhan kilometer tiap hari membuat badannya tetap bugar walaupun usianya sudah setengah abad.

Saya berhenti membaca majalah Bobo saat memasuki kelas 5 SD. Mewariskan kepada adik perempuan saya, Ina dan Tita.

Tabloid Bola yang terbit tiap Jum’at mengalihkan hasrat menikmati Bobo. Apalagi saat itu kejuaraan sepak bola Piala Eropa tahun 1992 digelar. Trio AC Milan, Marco Van Bansten, Ruud Gullit, dan Frank Rijkaard yang memperkuat Belanda sedang dalam masa kejayaannya setelah mengantarkan I Rossoneri menjadi jawara Serie A.

Kebiasaan membaca koran secara fisik teralihkan seiring pesatnya teknologi. Bermunculannya situs berita gratis melenakan saya dalam mengais informasi.

Membaca Koran Digital

Hasrat membaca koran “warisan” di Pontianak harus terkubur dalam. Pertimbangan datangnya koran pada siang hari jadi alasan untuk tidak membeli secara eceran atau berlangganan.

membaca koran
Tangkapan layar awal mula berlangganan koran Kompas digital

Untungnya, pada Maret 2018 koran Kompas meluncurkan versi digitalnya dalam bentuk situs yang mudah diakses dimanapun.

Sejak September 2018, saya memutuskan untuk berlangganan Kompas.id untuk memenuhi hasrat mencari informasi serta menjaga tradisi yang dimulai oleh orang tua.

Nazya, putri sulung, mulai diperkenalakan dengan majalah Bobo yang menemani saya saat kecil, walaupun tidak secara rutin. Keinginan meneruskan bacaan Bobo kepada anak, agar mengenal Oki dan Nirmala, Bona dan Rongrong, serta Bobo dengan kedua adiknya Coreng dan Upik.

Saya pun berharap saat dewasa nanti, kedua putriku menyantap koran Kompas seperti orang tuanya. Semoga juga koran Kompas tetap hidup saat anak-anakku tumbuh besar nantinya.

Bukankah tradisi yang baik harus dipertahankan.

postingan ini merupakan sister post dan bagian dari one day one post.

Featured image by nappy from Pexels

Leave a Reply

%d bloggers like this: