Dana Darurat, Berapa Banyak dan Bagaimana Caranya?

Istilah Dana Darurat sudah lama gue dengar. Berdasarkan pengalaman pribadi, untuk mengumpulkan memang rada susah. Karena keinginan gue terhadap barang yang nggak terlalu pentingmasih terlalu besar.

Beberapa artikel keuangan menulis kalau Dana Darurat itu sangatlah penting. Karena kita tidak tahu kejadian apa yang bakal menimpa diri kita di masa depan. Apakah itu, terkena PHK, kecelakaan bermotor, sakit atau musibah apapun yang membutuhkan duit besar.

Kan nggak mungkin juga, ketika kita terkena musibah terus harus pinjam duit ke saudara atau teman. Toh, belum tentu juga mereka mau bantu dan punya duit lebih untuk dipinjami.

Berapa Banyak Dana Darurat Yang Dibutuhkan

Beberapa financial palnner mengatakan, dana darurat yang dibutuhkan itu tergantung berapa banyak pengeluaran kita dalam sebulan lalu kalikan dengan 12 bulan. Kenapa 12 bulan? Ya karena gue sudah menikah dan mempunyai dua anak.

Dengan asumsi pengeluaran gue selama sebulan Rp 5.000.000 maka dana yang harus dikumpulkan sebanyak Rp 60.000.000. Untuk mengumpulkannya harus dengan cara dicicil tiap bulannya. Kalau dikumpulkan sekaligus jelas berat banget.

Untuk yang masih lajang, disarankan untuk mengumpulkan sebanyak 6 bulan pengeluran. Nah kalau untuk yang sudah menikah tapi belum punya anak disarankan 9 bulan pengeluaran.

Tapi menurut gue hitungan itu bukan jadi patokan. Bukankah semakin banyak dana darurat itu semakin baik.

Cara Mengumpulkan Dan Tempatnya

Seperti yang sudah gue singgung diatas. Untuk mengumpulkan sebanyak 60 juta, dilakukan secara mencicil setiap ada duit. Baik itu duit dari gaji kantor, bonus ataupun hasil usaha sampingan. Nominal yang gue kumpulkan tidak tentu. Gue usahakan untuk mengumpulkan minimal 10 persen dari penghasilan yang didapat tiap bulannya.

Nah, karena gue termasuk orang yang cukup boros serta kerap kalap kalau belanja. Maka duit itu gue simpan di reksadana pasar uang dan tabungan syariah.

Alasannya kenapa di reksadana pasar uang, karena imbal hasilnya terkadang lebih besar dari deposito dan dapat dicairkan kapan saja serta tidak ada pajaknya. Satu lagi yang penting, untuk beli reksadana pasar uang kan bisa dimulai dari duit 100 ribu.

Kenapa sebagian gue taruh di tabungan syariah? Tabungan syariah ini emang dikhususkan untuk dana darurat. Selain itu karena tabungan ini bebas biaya adminstrasi bulanan dan biaya ATM. Kedua biaya tersebut walaupun kecil tapi bikin duit kita di tabungan berkurang sedikit demi sedikit loh. Tentu aja bikin senyum kecut kalau duit tergerus tiap bulan untuk biaya adminstrasi dan ATM tiap bulannya.

ilustrasi gue ambil dari google dan tanpa izin terlebih dahulu.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: