Tubuhku Baterai 1%: Jeda ala Solo-Semarang-Yogya, Bonus Drama Meja Kayak Episode ‘Stranger Things’

Halo, kawan-kawan www.irfandi.net! *sambal dadah-dadah* Bayangkan Taylor Swift baru selesai tur 3 hari nonstop, terus diminta nyanyi lagu “Shake It Off” lagi. Kira-kira suaranya bakal mirip apa? “Shake-shake”-nya mungkin jadi “Sakit-sakit”. Nah, saya habis “tour” ala-ala Swift versi Jawa: Solo-Semarang-Yogya dalam 72 jam. Hasilnya? Tubuh ini sekarang kayak iPhone lawas yang casbor-nya cuma nyampe 5%, otak kayak Google Translate lagi … Read more
Surat Cinta dari 800 Kilometer

Pernahkah terbayangkan 10 tahun lalu. Saat pertama bertemu? Di restoran cepat saji pada sebuah jalan protokol yang namanya ditasbihkan dari Pahlawan Revolusi. Ahmad Yani. Tapi semua orang Pontianak menyebutnya “Ayani”. Jalan yang penuh dengan segudang cerita, seperti kita. Saat itu, kamu dan aku adalah entitas asing. Kini menjadi satu, kita. … Read more
Dari Solo ke Panggung Dunia: KP2MI, UNS, dan Mimpi Pahlawan Devisa

Begini ceritanya, Solo itu kota yang menyimpan banyak kisah. Bukan cuma soal batik atau serabi notosuman yang bikin nagih. Dulu, di tanah yang sama ini, ada drama keraton. Sunan Pakubuwono II, mungkin lagi enak-enaknya ngopi, eh, sepupunya, Sunan Kuning, bikin kejutan. Pemberontakan! Tanggal 30 Juni 1742, istana Kartasura dibikin geger. … Read more
Sepak Bola dalam Beberapa Babak : “Darah Biru”, Darah yang Diwariskan

Bagi kami orang Sunda, Persib bukan sekadar klub sepak bola. Sejak didirikan pada 1933, Persib lahir dari rahim perlawanan. Di era kolonial, ketika orang Sunda dilarang berseragam di klub-klub Belanda, Persib menjadi jawaban: bendera kebanggaan yang berkibar melawan diskriminasi. “Darah biru” yang mengalir di tubuh kami adalah darah yang sama … Read more
Catatan Seorang Gladiator : Perjalanan Pulang yang Tak Pernah Selesai

18.35 – Pancoran: Dingin yang Menyelinap ke Tulang Jarum jam menancap di angka 18.35. Dingin sisa hujan sore menggerogoti tulang, memaksaku meninggalkan kantor di Pancoran. Di trotoar Jalan MT Haryono, langkahku bersenyawa dengan riuh para gladiator lain: lelaki berkemeja lusuh memanggul tas laptop, ibu-ibu dengan kantong belanjaan yang lebih berat … Read more
Gladiator Senja di Jalan Beton

Pukul 06.17. Tol Merak-Jakarta bergetar seperti urat nadi yang tersumbat karat. Ribuan kendaraan menggeram, mengunyah aspal yang masih berbau anyir embun pagi. Di dalamnya, para gladiator modern bersiap. Mereka yang mengikat dasi bagai tali gantung, menyemir sepatu layak baju zirah, dan mengepakkan nafas terakhir sebelum masuk coloseum bernama Jakarta. Bajuku … Read more
Pukul 17.02: Transit di Persimpangan Takdir

Jarum jam menancap di angka lima lelah. Aku masih berdiri di halte Busway Pancoran, menyaksikan matahari sore yang tersedu-sedu di antara gedung-gedung. Sebuah pertanyaan menggantung: Nasib baikkah ini, atau hanya ilusi yang kubeli dengan karcis seharga tiga ribu lima ratus rupiah? Tubuh ini harus pulang. Beristirahat di antara debar tagihan listrik dan … Read more








